BRIN Aplikasikan Teknologi Radiografi Neutron dalam Bidang

Serpong – Humas BRIN. Teknologi nuklir telah dimanfaatkan lebih dari satu abad sejak ditemukannya fenomena radioaktivitas. Sejak saat itu, energi berkembang sangat pesat. Salah satu pemanfaatan teknologi nuklir dapat digunakan dalam penelitian peninggalan budaya maupun perminyakan, yaitu melalui teknologi radiografi neutron.

Untuk membahas lebih dalam mengenai teknologi tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), melalui Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) menyelenggarakan Suara Riset episode 6, dengan tema “Riset Teknologi Radiografi Neutron serta Aplikasinya pada Warisan budaya dan Perminyakan di Indonesia” secara berani, Jumat (15/7).

Radiografi adalah teknik pencitraan menggunakan radiasi untuk melihat bagian dalam dari suatu obyek atau benda. Radiografi neutron digunakan untuk melengkapi radiografi sinar-x, karena terdapat beberapa hal yang tidak terdeteksi oleh radiografi sinar-x.

Sedangkan tomografi adalah teknik radiografi untuk menggambarkan lapisan-lapisan tubuh tertentu, dengan cara menonton lapisan atas dan bawahnya.

Kepala Pusat Riset Deteksi Radiasi dan Analisis Nuklir (PRTDRAN), Abu Khalid Rivai mengungkapkan, Indonesia memiliki fasilitas Laboratorium Penghamburan Neutron terbesar di Asia Tenggara.

“Indonesia memiliki fasilitas Laboratorium Penghamburan Neutron atau fasilitas spektrometri neutron, yang diresmikan 20 Agustus 1992, dan fasilitas ini memasuki 30 tahun sejak diresmikan oleh Presiden Soeharto. Fasilitas hamburan neutron di Kawasan Nuklir Serpong ini adalah fasilitas hamburan neutron terbesar di Asia Tenggara,” tulisnya.

Abu yakin, teknologi hamburan neutron dapat mengangkat daya saing dan kompetensi bangsa Indonesia di era global dan internasional. Ia juga menjelaskan bebarapa instrument yang ada di fasilitas hamburan neutron, salah satunya yaitu radiografi neutron dapat diaplikasikan dalam warisan budaya dan perminyakan.

Abu berharap, kegiatan ini dapat dimanfaatkan untuk mengkaji lebih lanjut tentang radiografi neutron. “Kesempatan yang sangat baik bagi kita untuk sama-sama mengkaji teknologi radiografi neutron dan juga aplikasinya di warisan budayaarkeologis, dan peminyakan,” ujarnya.

Ia juga berharap, pemanfaatan neutron pencitraan dalam bidang arkeologi, warisan budaya, dan perminyakan di Indonesia dapat terus ditingkatkan. “Tentunya kami sangat terbuka untuk kolaborasi dan kerja sama riset untuk pemanfaatan neutron pencitraan dalam bidang arkeologi, warisan budaya dan perminyakan, baik bagi sesama sivitas BRIN, Perguruan Tinggi, maupun masyarakat luas”, pungkas Abu.

Teknologi Radiografi Neutron Bidang Arkeologi

Peneliti Ahli Madya PRTDRAN, Bharoto menjelaskan prinsip kerja dari radiografi neutron. “Ada sumber radiasi, baik sinar-x atau yang lain, diarahkan ke sampel arah, penyerapan sesuai koefisien atenuasinya, radiasi yang menembus bahan ditangkap oleh detektor,” jelasnya.

“Sedangkan untuk tomografi, kita perlukan hasil radiografi dari berbagai sudut sehingga sampel harus atau bisa juga sampelnya diputar tetapi sumber dan detektornya yang berputar. Intinya, kita membutuhkan radiografi dari sudut 0 sampai 180 derajat, kemudian direkonstruksi menjadi tomografi 2 dimensi, kemudian dengan menggunakan perangkat lunak tertentu bisa didapatkan tomografi 3 dimensi”, jelasnya.

Lebih lanjut Bharoto menambahkan, dalam bidang arkeologi dan warisan budayatomografi neutron lebih unggul digunakan untuk mendeteksi bahan organik seperti kulit dan tulang, sedangkan bahan non-organik lebih baik dideteksi dengan tomografi sinar-x.

Bharoto juga memaparkan menggunakan radiografi neutron dalam arkeologi dan warisan budaya.

“Pertama, metode neutron itu tidak populer, bukan hanya di Indonesia, bahkan di negara lain juga, karena masih takut dengan neutron. Kedua, alatnya tidak portabel. Ketiga, untuk benda arkeologi dan benda warisan budaya atau bersejarah sangat sulit untuk keluar dari museum. Inilah yang membatasi aplikasi radiografi/tomografi neutron untuk penelitian arkeologi dan warisan budaya masih sedikit di Indonesia”, jelasnya.

juga menambahkan, aplikasi radiografi/tomografi neutron dalam bidang industri dapat digunakan untuk mendeteksi korosifitas pipa-pipa industri, memeriksa komponen-komponen industri, kelainan, kualitas produk, kualitas pengelasan, kualitas beton, analisis bahan, dan lain sebagainya.

Teknologi Radiografi Neutron Bidang Industri

Pada kesempatan yang sama, Peneliti Ahli Muda – BRIN, Fahrurrozi Akbar menjelaskan pengaplikasian pencitraan neutronyang digunakan dalam industri perminyakan.

Fahrurrozi memaparkan teknik pencitraan neutron yang diaplikasikan pada proses penambangan minyak. “Aplikasi pencitraan neutron untuk industri perminyakan ada di bagian terakhir yaitu setelah produksi penuh”, jelasnya.

Teknik ini dibutuhkan karena sebelum dilakukan proses reklamasi, akan dilakukan ekstraksi pada sumur-sumur lama yang masih terdapat kandungan minyak didalamnya. Hal ini dikarenakan pada saat ekstraksi dilakukan, minyak primer dan sekunder hanya dapat dilakukan ekstraksi minyak sebanyak 40 hingga 50 persen aja, sedangkan sisanya masih tertinggal di dalam lokasi. Pada sekitar tahun 1970, metode baru diperkenalkan Pemulihan Minyak yang Ditingkatkan (EOR).

EOR dikenal sebagai metode teknik pemulihan tersier, yang merupakan metode untuk mengekstraksi minyak yang masih tertinggal dalam sumur-sumur lama dan tidak dapat diekstraksi dengan metode lainnya. Terdapat 3 teknik EOR, yaitu injeksi termal, injeksi gas dan kimiawi kimiawi, yaitu menggunakan surfaktan (zat yang dapat menurunkan tegangan permukaan).

Sejak tahun 2019, tambah Fahrurrozi, telah dilakukan penelitian pencitraan neutron dalam bidang indutri perminyakan bekerja sama dengan Universitas Trisakti Jakarta. Sampel yang digunakan adalah jenis batu kapur dan batu pasir.

Fahrurrozi menjelaskan lebih lanjut mengenai target penelitian yang dilakukan. “Target dari penelitian ini secara bertahap yaitu pengukuran porositas (ukuran dari ruang kosong di suatu sampel), mengetahui distribusi minyak, menghitung kuantitas minyak, serta mengetahui efektifitas penggunaan ampas tebu surfaktan”, ujarnya.

Hasil yang didapatkan dari penelitian ini adalah kuantitas minyak yang dapat diekstraksi dari sampel batu pasir yaitu sekitar 40 hingga 60 persen. Untuk proses selanjutnya, yaitu setelah diimplementasikan dengan surfaktan, ternyata hanya menambah sekitar 2 persen minyak yang dapat diekstraksi.

Langkah selanjutnya yaitu sampel didiamkan selama 14 hari, sehingga didapatkan sampel dengan tingkat salinitas udara yang lebih rendah. “Ternyata sampel dengan salinitas 40 ribu ppm dapat melepaskan sekitar 10 persen lebih banyak minyak yang terkandung didalamnya daripada sampel dengan tingkat salinitas 60 ribu ppm. Artinya, salinitas lebih rendah malah lebih tinggi penguapan minyaknya,” jelas Fahrurrozi.

Pada kesempatan terpisah, Plt. Kepala ORTN BRIN, Rohadi Awaludin, menyampaikan, Indonesia memiliki modal besar baik Laboratorium Penghamburan Neutron maupun periset teknologi neutron yang cukup kuat, baik tingkat regional maupun internasional termasuk teknologi radiografi neutron.

“Sangat diharapkan riset teknologi radiografi neutron serta aplikasinya pada cwarisan budaya dan perminyakan di Indonesia semakin kuat dan unggul untuk perguruan tinggi, dengan kolaborasi yang semakin intensif dan kuat dengan berbagai pihak di Indonesia, baik internal BRIN maupun tinggi, industri, dan masyarakat luas” tegas Rohadi. (IS, la/ ed: tnt).