Biologi UGM Memasuki Era Metaverse

Oleh Prof. Budi Setiadi Daryono, S.Si., M.Agr.Sc. Ph.D

Perubahan kini semakin cepat dan hampir tidak bisa diprediksi. Salah satu perubahan yang bisa kita rasakan adalah masifnya intervensi teknologi pada kehidupan pasca-covid. Sejak awal 2020, COVID-19 memaksa manusia untuk merancang cara baru bekerja secara berani, mulai dari menggunakan platform konferensi audio seperti Zoom atau Google Meet, hingga aplikasi sistem yang lebih kompleks dengan Realitas diperpanjang (XR) (sering disebut sebagai Realitas maya, Realitas Tertambah dan Realitas Campuran) yang dianggap menawarkan solusi yang mutakhir. Baru-baru ini perusahaan besar seperti Microsoft dan Meta (sebelumnya Facebook) mengumumkan bahwa mereka sedang mengembangkan Metaverse sebagai paradigma baru untuk berinteraksi dengan dunia digital. Selain itu, pengembangan Metaverse kedepannya diprediksi mampu dimanfaatkan sebagai situs jual beli yang nyata dan umum, seperti aset rumah, tanah, bangunan dan lainnya. Hangatnya perbincanggan metaverse saat ini karena sebagai sumber daya yang tidak terbatas, tentu saja, menimbulkan banyak pro-kontra.

Pertanyaanya bagaimana kita bisa memanfaatkan peluang dengan kehadiran metaverse?

Kesiapan Fakultas Biologi dalam menghadapi disrupsi teknologi diwujudkan dengan terselenggaranya Seminar Nasional Biologi Tropika ke-6 “Masa Depan Biodiversitas Indonesia di Era Metaverse” pada 23 Juli lalu. Dengan konsep hybrid, SNBT[BiologisuksesmenghadirkanpembicarayangahlidibidangnyasepertiCEOMetaverseIndonesiaWIRGroupDirekturMonsterARsertadibukaolehMenteriPendidikanKebudayaanRisetdanTeknologiRepublikIndonesiaKamisadarbahwaBiologisebagaisalahsatucabangilmupengetahuandankemajuankedalamDasar atau Ilmu Dasarkini terus berkembang dan menjadi bagian dari Ilmu Kehidupan. Sebagaimana Evolusi yang telah menjadi salah satu daya tarik orang untuk mempelajari Biologi maka Biologi sebagai ilmu pengetahuan juga terus berkembang. Dalam perkembangannya, Biologi sering kali distimulasi dan diakselerasi melalui perkembangan teknologi dan mengikuti revolusi industri. Instrumen sebagai hasil dan bentukan teknologi menjadi media penting dalam perkembangan perkembangan Biologi.

Metaverse sebagai salah satu media hasil perkembangan teknologi, akan menjadi kunci media dan dapat digunakan untuk mengembangkan pembelajaran Biologi. Teknologi tersebut memberikan kesempatan bagi semua orang untuk mendapatkan pendidikan dan pengalaman secara holistik, serta memperkenalkan metode baru untuk kegiatan belajar mengajar. Dengan inovasi Metaverse, pembelajaran dapat dilakukan dengan biaya yang lebih rendah dan dengan kemungkinan tak terbatas. Kemungkinan yang dimaksud, misalnya, siswa yang mempelajari senyawa antikanker dapat menggunakan Metaverse untuk melihat bagaimana sel-sel sehat bekerja pada tingkat molekuler, bagaimana apoptosis selanjutnya dan efek senyawa terhadap sel tersebut. Siswa dapat bereksperimen untuk membuat modifikasi genetik tanpa perlu khawatir dengan biaya bahan-bahan hingga biaya akses laboratorium.

Dengan Metaverse, besar harapan substansi pembelajaran juga penelitian di bidang Biologi akan terus berkembang dan daya tarik tersendiri khususnya bagi generasi milenial dalam mempelajari Biologi. Perpaduan antara Metaverse dan pembelajaran hayati akan menghantarkan Biologi menjadi bidang ilmu pengetahuan yang penting serta menjadi kunci dalam kajian dan eksplorasi Biologi masa depan yaitu Laut dalam dan eksobiologi yang didahului dengan pesatnya perkembangan Data besar dan Bioinformatika pada saat ini. Pemanfaatan Metaverse dalam bidang biologi juga dapat membantu siswa memahami suatu gambaran yang sangat nyata dalam proses pembelajarannya di masa depan. Siswa akan mampu mengalami, merasakan, mengetahui dan memahami kehidupan flora fauna yang telah punah dengan lebih nyata dengan ruang virtual bernama Metaverse.

Namun, konsep Metaverse juga dapat menjadi ancaman bagi kehidupan manusia karena dunia virtual yang berkembang sekarang dibantu dengan bantuan alat VR atau realitas maya dan pengalaman virtual yang diperoleh belum begitu nyata. Konsep Metaverse ini hampir sama dengan suatu subaliran dari novel ringan, manga, anime, dan permainan video Jepang yang dikenal dengan Isekai (terj. bahasa Jepang “dunia berbeda” atau “dunia lain”). Beberapa masyarakat yang salah anggapan bahwa isekai adalah dunia yang sebenarnya. Akibatnya, dapat muncul suatu pemikiran negatif baru di masyarakat bahwa kehidupan nyata suatu hal yang penting karena masih ada kehidupan lain di Metaverse yang dianggap lebih bermakna. Selain itu, dalam masa pengembangan, Metaverse masih berupa dunia yang aman untuk beraktivitas. Rentannya pencurian identitas, penipuan, serta pengambilalihan akun masih ada pengguna Metaverse. Semakin besarnya aplikasi dan intervensi Metaverse pada pengguna, semakin banyak pula akses data pribadi, informasi kredensial, hingga aset digital, mengingat maraknya pengguna blockchain, seperti Ethereum yang tidak memiliki otoritas pusat. Jika properti kita dicuri, platform Metaverse, misalnya OpenSea atau Sandbox tidak memiliki tanggung jawab terhadap kasus pencurian tersebut. Ketika ke depan metaverse benar-benar menjadi paradigma baru, pengguna sebagai pihak yang paling rentan di Metaverse harus berhati-hati betul dan tidak gegabah dalam mengelola akun dan informasi pribadi yang ada di dalamnya.

Di sisi lain, Metaverse dalam skala yang lebih sempit, seperti penggunaan Realitas diperpanjang (XR) yang mana tidak melibatkan penggunaan aset digital tentu saja dapat memberikan efek besar untuk kemajuan Biologi maupun keanekaragaman hayati dalam bentuk ruang pembelajaran dan ruang pariwisata. Flora dan fauna yang terancam punah seperti Badak Bercula Satu, Komodo, Elang Jawa, bunga Raflessia dan lainnya dapat digunakan sebagai objek dan tempat rekreasi yang nantinya dapat digunakan secara virtual. Pembuatan objek wisata virtual dapat mencegah kerusakan ekosistem yang disebabkan oleh masuknya wisatawan ke dalam ekosistem alamnya. Selain itu, flora dan fauna lebih terjaga, sehingga kemampuan reproduksi dapat berkembang secara optimal sehingga dapat menjaga kesehatan.

Pada akhirnya, Metaverse akan membawa paradigma baru dalam dunia pembelajaran dan penelitian Biologi maupun ilmu lainnya karena menyediakan platform yang mudah dicapai, interaktif, kritis, dan tidak adanya batasan dalam penggunannya. Walaupun begitu, sebagai pengguna yang bijak, ada baiknya tetap memahami bahwasannya Metaverse akan membuat kehidupan sebenarnya. Metaverse hanyalah suatu alat saja dan tidak bisa realistis serta membatasi rasionalitas, dan intelektualitas manusia.